Minggu, 09 Desember 2012

ADAT & BUDAYA MINANG


 Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

    Gallery Situs Kota Padangpanjang.

Kekurangan pengetahuan adat sebagai kurangnya sosialisasi pengetahuan adat dan nagari dari generasi tua ke generasi muda, dari pihak pemangku adat, niniak mamak, ke anak kemanakan, mengakibatkan melemahnya nilai-nilai yang memagari kampung dan nagari serta diri seseorang, dan ini dapat menimbulkan hilangnya jati diri, akan berakibat fatal mudahnya serangan masuk dari budaya lain yang bersifat negatif. 

Tercermin dari fenomena berikiut yang dikutip dari jurnal ABM Jakarta.

  • Sikap urang Minang terhadap negerinya sendiri kelihatannya cendrung mendua atau ambivalen, cinta tapi benci, bangga tapi risau, atau benci tapi rindu. Urang Minang mudik lebaran karena rindu akan tanah kelahirannya, ingin menengok orang tua, sanak saudara, kawan lamo, bernostalgia mengajak anak dan keluarga pulang kampung, rindu akan kampung yang indah nan salalu maimbau-imbau.
  • Sekarang ini urang awak menjadi sasaran yang sangat terbuka untuk diserang karena tanpa pertahanan yang kokoh dari segi pemahaman/pengamalan agama, adat, dan budaya. Sudah cukup menggejala serangan terencana dan berkelanjutan terhadap agama Islam, adat, dan budaya masyarakat Minang. Apakah ini sebagai akibat dari tidak adanya atau tidak efektifnya sosialisasi adat dan agama dan melemahnya hubungan mamak, penghulu, dan datuk-datuk terhadap anak dan kemanakan?
  • Maraknya perbuatan maksiat di ranah Minang seperti mabuk, judi, rampok, korupsi, menghilangkan nyawa orang, pelacuran, narkoba, pakaian tidak senonoh, pergaulan muda-mudi yang begitu bebas, dsb. Apakah semuanya ini berakar dari ketidaktahuan mereka tentang nilai-nilai adat, dan agama; Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” hanya tinggal slogan? Urang Minang tidak lagi segan, tidak lagi menjaga nama baik kampuang jo nagari, kaum, suku, niniak mamak, dan keluarga. Orang tua dan mamak tidak lagi berani menegur anak dan kemanakannya, apalagi anak dan kemankan orang lain. (terjadi proses pembiaran) Pada hal anak-anak itu bisa diarahkan sejak dini, menanamkan nilai-nilai agama dan adat, sayang jo anak dilacuti, sayang jo kampuang ditinggakan. 
  • Orang Minang serta daerahnya memiliki beberapa keunggulan yang merupakan potensi besar untuk dikembangkan, dan inilah yang membuat etnis Minang tampil beda dari etnis lainnya yaitu :
1.       Sumber Daya Manusia Orang Minang cerdas dan bisa untuk dikembangkan.
2.       Orang Minang agamanya Islam, tidaklah dikatakan orang Minang jika agamanya selain Islam.
3.       Ranah Minang merupakan daerah wisata yang sangat indah dan bernilai jual.
4.       Orang Minang mempunyai bakat bisnis yang alami yang mesti harus dipoles dan dikembangkan.
5.       Nilai adat yang sangat luhur sebagai norma etika dalam pergaulan. 


Nagari Gunuang
                                                        Batas Kota Padangpanjang

  • Kita tidak menginginkan generasi muda yang tidak lagi kenal dengan mamaknya, walau bagaimanapun rendahnya keadaan ekonomi dan pendidikan si mamak. Kita tidak ingin generasi muda acuh tak acuh, petantang-petenteng, tidak menghormati orang yang lebih tua, bak pepatah minang dikacak langan lah bak langan, dikacak batih lah bak batih, tagak sarupo urang ka mambali, duduak sarupo urang ka manjua, lonjak sarupo labuah anyuik, bak sarupo kacang diabuih ciek.
  • Hilangkan plesetan-plesetan yang berbau negative, yang tidak pernah diajarkan dalam nilai adat Minang untuk mendiskreditkan adat dan budaya Minang. Contoh; titan biaso lapuak, janji biaso mungkie, minang hilang tingga kabaunyo, kok utang ka dibayie, dima cadiak ka dipakai, dahulu rabab nan batangkai, kini lagundi nan banbungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan manggantikannyo, dan sebagainya. Contoh plesetan di atas sangat berbahaya, secara psikologis dan perlahan bisa membuat erosi dan mengikis nilai-nilai adat dan budaya Minang.
KAMPUANG NAN DEN CINTOI

Kekurangan

Rabu, 05 Desember 2012

“MENGGALI POTENSI SURAU"


“MENGGALI POTENSI SURAU menjadi/sebagai ISLAMIC CENTER” oleh : Taufik Ahmad Taudjidi – Imam Basa Nagari Gunuang (Kutipan Khutbah Idul Fitri 1433 H, 19 Agustus 2012, di Lapangan SMPN 3 Padang Panjang)


Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Kaum Muslimin yang berbahagia, Saat ini, dalam rangka membangun kemandarian bangsa guna menghadapi persaingan di era globalisasi, tengah digulirkan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal atau local wisdom. Yaitu, konsep pembangunan berbasis pada kondisi budaya lokal, termasuk mengacu pada pesan-pesan moral dan motivasi yang hidup di masyarakat. Salah satu”kearifan lokal” yang ada di Ranah Minang, adalah berlakunya SISTEM MATRILINEAL, yaitu sistem waris harta pusaka tinggi yang berpuncak dan turun temurun pada garis ibu. Saat ini, di seluruh dunia, hanya terdapat 4 (empat) suku bangsa yang menganut sistem Matrilineal, yaitu sebuah suku bangsa di benua Afrika, sebuah suku Indian di benua Amerika , sebuah suku di India dan satu-satunya suku di Indonesia, yaitu Minangkabau. 

Sistem matrilineal dengan segala sub-sistemnya adalah “Tiang Agung Minangkabau” kata alm Buya Hamka. Hak Waris Harta pusaka tinggi sebagai sub sistem dari sistem Matrilineal, hendaknya harus tetap dijaga keberadaannya. Harta pusaka tinggi adalah harta bersama sebuah kaum, adalah harta bersama untuk dinikmati, bukan harta untuk dibagi-bagi. Pewarisan harta pusaka tinggi adalah hanya sekedar peralihan peran, bukan peralihan milik. Harta pusaka tinggi turun dari niniek ka mamak, dari mamak ka kamanakan dan seterusnya ka bawah menurut garis ibu. Harta pusako tinggi tak boleh berpindah tangan karena diperjual-belikan. Harta Pusako tinggi adalah sebagai bukti “asal-usul” seseorang atau kaum. Seseorang dapat dikatakan adalah keturunan Minang, hanya apabila masih mempunyai harta pusako tinggi. Dalam adat, ini dikatakan: “Nan ba pandam ba pakuburan, nan basasok bajarami, kok dakek dapek dikakok, kok jauah dapek diantakan” Apabila sebuah keluarga atau kaum tak lagi punya harta pusako tinggi, orang atau keluarga itu tidaklah lengkap keminangkabauannya, bahkan sudah dianggap punah. Mereka tak perlu lagi punya panghulu, karena adat berdiri diatas pusako tinggi. Dari uraian ringkas diatas, dimensi kearifan lokal yang menyertainya adalah: Bahwa sejauh manapun anak-cucu orang Minang pergi merantau, bahkan sampai ke Australia atau ke Amerika, selama mereka masih punya harato pusako tinggi, mereka dan anak keturunannya akan tetap punya kampung halaman di Ranah Minang, dan mereka tetap bangga dengan RanahMinang. Kondisi emosional itulah tampaknya yang terpancar dari gegap gempitasetiap acara “pulang Basamo”, seperti yang tampak pada setiap lebaran saat ini. 

Kaum Muslimin yang berbahagia, Keunikan lain dari alam minangkabau yang mencerminkan kearifan lokal adalah adanya Falsafah Hidup yang sangat terkenal: “ ADAT BERSANDI SYARA’, SYARA’ BERSANDI KITABULLAH”. Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat. Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari - Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syari’at dan Peraturan/perundangan) Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah: Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin ‘alaq # Iqra’ warabbukal akram # Allazi ‘allama bil qalam # ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam. • Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini: Api, paneh dan mambaka, Aie, mambasahi dan manyuburkan, Kayu, bapokok, Ayam, bakokok, Kambiang, mangambiak, harimau mangaum Gunuang, bakabuik, dan sebagainya. Dipertegas pula dengan petatah lain: Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak kanyiru, Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru. Falsafah “alam takambang jadi guru”, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada surat ‘ Ar-Ra’d ayat 3, yang artinya: "Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan". Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44: “Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu’ miniin " Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya." Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Qur’an. “Alam takambang jadi guru”.. “Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan”. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Hadirin yang dimuliakan Allah, Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini. Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak. Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang. Ado mato aie bula’an di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakan-Nya:: Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Hadirin yang rahima kumullah Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. 

Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya. Hadirin yang dimuliakan Allah. Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial – bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah: “Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek”. Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai “perjalanan” hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah “LIFE SKILL”. 

Hadirin yang dimuliakan Allah Konsep pendidikan yang bernama “LIFE SKILL” atau “Kecakapan Hidup” itu dicetuskan oleh pakar pendidikan Barat, baru pada awal tahun 2000 lalu. Konsep ini diamini dan oleh para Pakar Pendidikan Indonesia yang kuliah di Amerika untuk di gulirkan sebagai konsep unggulan di Indonesia. Konsep pendidikan “life skill” ala Barat tersebut, menurut pakarnya meliputi: i)kecakapan adaptasi diri, ii) kecakapan komunikasi, iii) kecakapan memilih dan memilah masalah, iv)kecakapan mengambil keputusan, v) kecakapan personal dan sosial. Hadirin yang dimuliakan Allah Ternyata konsep pendidikan “life skill” yang digagas oleh pakar pendidikan Barat 10 tahun yang lalu itu, telah dilaksanakan di Ranah Minang oleh para jenius cendekiawan-cadiak pandai, ninik mamak kita beberapa abad yang lalu, yaitu melalui pendidikan di Surau. Dengan perkataan lain, kita boleh berbangga hati bahwa pendidikan “life skill” melalui Surau ternyata telah ada 3 abad lebih, mendahului konsep pendidikan ala barat yang disebut dengan “life skill education” yang baru digagas di tahun 2000-an itu. Oleh karena itu, rasanya sangat beralasan, bila kita mempertanyakan, bagaimanakah kini eksistensi SURAU sebagai lembaga pendidikan yang sudah terbukti berhasil pada jamannya. Bagaimanakah kondisinya kini ditengah era globalisasi, ditengah adanya penetrasi budaya Barat yang hadir begitu jauh dalam kehidupan kita melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi. Timbul sebuah pertanyaan yang mergelitik, Apakah iya ? fungsi surau sebagai sentra pendidikan yang juga berbasis pada “TIGO TUNGKU SAJARANGAN”, yaitu berbasis pada “OTAK (akademik), HATI (akhlak mulia) dan TANGAN (keterampilan), seperti yang pernah digagas dan dijalankan oleh Angku Muhammad Syafei di INS Kayutanam tahun pada 1926, telah hilang kiprahnya di dunia pendidikan di Ranah Minang. Hadirin yang dimuliakan Allah Saat sekarang ini sedang digulir Gerakan Kembali ke Surau, tujuannya adalah untuk membangkitkan atau menggiatkan lagi atau merevitalisasi fungsi surau sebagai pusat keislaman (Islamic Center), seperti tempo dulu, dengan maksud agar generasi muda mampu menghadapi penetrasi budaya asing yang demikian besar dampak buruknya terhadap kehidupan Islami yang menjadi ciri masyarakat Minang. 
Hadirin yang dimuliakan Allah Gagasan kembali ke Surau, ditengah kegamangan kita menghadapi era globasi yang ditandai dengan mudahnya teknologi komunikasi dan informasi masuk ke rumah kita, dengan dampak baik dan buruknya, sangat perlu kiranya kita dukung. Kita perlu menggali kembali keunggulan pendidikan berciri Surau. Yaitu sebuah konsep pendidikan keislaman yang berbasis kearifan lokal ala Alam Minangkabau, yang telah terbukti mampu membekali keterampilan hidup atau life skill bagi lulusannya. Untuk itu beberapa langkah yang bisa, kita lakukan adalah: • Pertama: Menginventarisir jumlah surau -surau yang masih ada di setiap kampung di setiap nagari • Kedua: Membuat kajian atas kondisi surau-surau yang ada, dilihat dari kondisi fisik, pengelolaan, guru dan peserta didik yang ada. • Ketiga: Membentuk dan Meningkatkan forum koordinasi atau majelis quro antara surau di dalam suatu nagari, sampai terbentuk koordinasi setingkat Propinsi. • Ke empat :Mengikutsertakan peran Pengurus Masjid (DKM), Ninik Mamak (KAN), Majelis Ulama (MUI), para tokoh pendidik, tokoh orpol dan ormas Islam dalam rencana pengembangan SURAU MODERN di Ranah Minang. • Kelima : Sesuai dengan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah menjadi tugas negara, maka program pengembangan dan pengelolaan SURAU MODERN mestinya tercermin dalam APBN dalam APBD Kabupaten/ Kota. ad/ia

Jumat, 09 November 2012

Merantau


Admin IKPG JAYA
 Merantau dan pulang kampung me­rupakan tradisi yang sudah melekat erat dalam ke­hi­dupan ma­syarakat Suma­tera Barat (Mi­nang). Merantau dan pulang kampung seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Seperti kata pepatah: “Karatau madang di hulu bangungo babuah balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”
Tradisi merantau seperti sudah menjadi patron dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Pada tahap awal, lelaki Minang umumnya diberi pendidikan dasar formal (setara dengan tingkat sekolah dasar sampai S1), tak lupa ditambahkan pen­didikan non formal berupa pengetahuan agama dan bekal ilmu bela diri (pandai silek jo mangaji).
Seiring dengan usai  mendapat bekal dasar tersebut, pemuda Minang tadi biasanya sudah mulai beranjak dewasa.
Maka saatnya ia menyem­purnakan “ilmunya”, sekaligus menjalani proses pematangan diri tahap selanjutnya, yaitu dengan “merantau.”
Pada masa merantau inilah seorang lelaki Minang diuji ketang­guhannya. Apakah ia akan muncul menjadi pemenang (winner) atau terdepak menjadi pecundang (looser). Namun disinilah letak keisti­mewaan masyarakat etnik Minang­kabau. Di rantau mereka merupakan pekerja yang ulet dan tangguh. Jika merintis karir di sektor perda­gangan, mereka muncul sebagai pedagang yang ulet dan sukses. Jika terjun ke dunia politik dan berbagai profesi, mereka menjelma menjadi politikus dan profesional yang tangguh dan berada di deretan papan atas.
Tentu saja tak mudah menjadi pemenang di medan perantauan tersebut. Berbagai tantangan, ujian dan cobaan harus mereka lalui. Sakit, pedih,  pilu, suka dan duka pasti mereka alami dan menjadi bumbu kehidupan sehari-hari di perantauan.  Namun kenyataannya banyak masyarakat Minang yang berhasil mengatasi semua cobaan dan ujian berat tersebut. Mereka lalu keluar sebagai pemenang (winner), mereka berhasil menjadi kelompok orang-orang sukses. Kisah suka dan duka yang selama ini mengiringi mereka justru menjadi bumbu pemanis untuk dikenang.
Bab berikutnya yang terjadi, setelah mereka sukses di rantau adalah seperti kata pepatah: “satinggi-tinggi tabang bangau, akhirnyo babaliak ka kubangan juo”.  Meski terpaut jarak dan rentang waktu yang panjang , namun hati, fikiran dan perasaan  orang Minang tetap dekat dengan kampung halamannya serta sanak kerabat dan keluarganya di kampung.
Maka  biasanya, momen Idul Fitri digunakan sebagai saat yang tepat bagi perantau Minang untuk melepaskan kerinduannya kepada kampung halaman, saudara dan karib-kerabatnya. Momen ini dipa­kai untuk melaksanakan prosesi pulang kampung, baik secara perorangan maupun dengan cara pulang basamo.
Dari tahun ke tahun hingga saat ini prosesi pulang kampung  terus berlangsung dan terlihat jelas di depan mata. Perantau Malalo, Perantau Sulit Aia, Perantau Silungkang, Perantau Kinari dan berbagai daerah lainnya yang terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu, berlomba-lomba menggelar prosesi pulang basamo. Acara silaturahmi tersebut berlangsung hangat dan meriah.
Tentu saja mereka pulang kampung tidak dengan tangan kosong. Mereka selalu membawa oleh-oleh untuk ditinggalkan dan dikenang di kampung. Ada yang meninggalkan kenangan berupa dana untuk memperbaiki rumah mereka di kampung yang sudah mulai menua, patungan membantu biaya sekolah kemenakan di kam­pung atau perantau pulang basamo berpatugan untuk memperbaiki mesjid, sekolah atau jalan ling­kungan di kampung mereka.
Tak jarang pula oleh-oleh itu berupa kerjasama bisnis seperti perantau membawa saudaranya untuk ikut bekerja di tempat usaha mereka. Atau perantau berinvestasi dengan membelikan kambing, sapi atau sawah untuk saudara dan kerabatnya. Investasi ini keliha­tannya memang kecil dan tak berarti, tapi jika setiap nagari perantaunya membeli 10 ekor sapi, maka akan ada investasi lima ratus ekor sapi, jika dilakukan di 50 nagari saja.  Jika seekor sapi bernilai Rp10 juta, maka akan ada investasi baru senilai Rp 5 miliar.  Investasi jenis ini menjadi istimewa dan tepat sasaran karena langsung diterima oleh masyarakat dan jika masyarakat setempat mengelolanya dengan serius, akan berdampak langsung untuk mening­katkan kesejahteraan mereka.
Disadari atau tidak, tradisi merantau dan pulang kampung (mudik) merupakan sebuah keka­yaan sosial (social capital) yang memiliki kekuatan  luar biasa. Terbatasnya sumberdaya dan lapangan kerja yang ada di kam­pung bisa diatasi dengan tradisi merantau. Sedangkan terbatasnya dana APBD dan APBN untuk membangun daerah dan mening­katkan ekonomi masyarakat selama ini telah terbukti bisa dilengkapi oleh perantau.
Kita tentu menerima  dengan tangan terbuka kontribusi dari perantau dimanapun mereka berada dan dalam bentuk apapun mereka ingin berinvestasi. Mari kita bahu membahu dan mengerahkan semua potensi untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan ma­sya­rakat Sumatera Barat menuju ha­ri esok yang lebih baik. Sekecil apa­pun kontribusi yang  kita la­kukan, sedikit demi sedikit tentu la­ma-lama akan menjadi bukit dan men­jadi amal di sisi Allah SWT.

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Haluan 27 Agustus 2012